Genta, Arial, Zafran, Ian dan Riani, 5 sahabat yang berbeda namun selalu siap sedia untuk yang lainnya. Genta sang leader, Arial yang keren, Zafran yang aneh di tengah lautan kata-kata ajaibnya, Ian gembul yang setia dengan mie instan dan guyonannya, serta Riani.. smart girl, ibunya anak-anak.
Sangat sederhana prinsip persahabatan yang mereka miliki. Saling percaya, membicarakan banyak hal yang terkadang ada kontra di dalamnya, dan satu yang sangat luar biasa.. prinsip 3 menit yang mereka terapkan.
Ya benar, 3 menit yang mereka tetapkan untuk menyelesaikan masalah diantara mereka. Batas 3 menit untuk mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal. Dan tentu saja, 180 detik yang cukup untuk mencari solusi dengan tidak membicarakan kejelekan seseorang dibelakang orang tersebut.
Amazing...
Sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama tentunya hal yang paling diharapkan. Tapi terkadang terkesan monoton, sehingga bisa berakibat fatal, yaitu matinya "rasa" diantara mereka. Mereka sepakat untuk melepaskan diri sejenak dari lingkaran rutinitas mereka, demi mendapatkan lagi "rasa" mereka.
Terkadang, memang masa jeda itu diperlukan. Tapi tidak lama. Terkadang butuh refresh dari rutinitas yang menenggelamkan kita. Mungkin beda makna jika dikaitkan dengan ibrohnya "tuma'ninah" dalam setiap gerakan sholat.. jeda sesaat, untuk betul-betul merasakan indahnya berkomunikasi dengan Tuhan.Selama 3 bulan, mereka menjauh dan berjuang di tengah masyarakat lain tanpa sahabat yang selalu mengisi. Ada cerita-cerita menarik dari msing-masing personal. Menguras air mata...
"Aaaaaaa....." , bagai menjerit di tengah lautan lepas, tatkala masa penantian 3 bulan itu berakhir. Seperti meneguk air di gurun tandus, melihat wajah para sahabat, membuat jiwa ini kembali ter-charge. Dan kisah yang lebih menantang dan penuh pembelajaran.. di mulai di sini. Stasiun Kereta Api, tempat bertemunya mereka kembali, plus Dinda.. adik Arial. Menuju tempat yang istimewa.. MAHAMERU !
Di sepanjang perjalanan, bagaimana terbukanya mata mereka terhadap kehidupan luar dari metropolitan yang ternyata juga cukup keras. Pembicaraan-pembicaraan "ajaib" yang bergulir, baik itu hiburan belaka, kondisi negara, sosok, alam, ilmu pengetahuan, dan lainnya. Hingga pertemuan dengan tokoh-tokoh yang sederhana namun luar biasa, seperti Mbok penjual nasi dan Mas Gembul, sang sopir angkot yang mengantarkan mereka dari stasiun menuju daerah Tumpang.
Dari daerah Tumpang, mereka melanjutkan perjalanan naik jip. Bertemu Deniek dkk, berbagi cerita seputar kamera yang dibawa Ian. Tips mengambil dedaunan yang mereka lewati untuk menghangatkan badan, serta menikmati sisi keagungan Tuhan yang lain, BROMO
Kisah mereka selanjutnya adalah hal klimaks di buku ini. Penggambaran suasana amat detail, sehingga kita seperti diajak masuk dalam rombongan mereka, dan turut serta berjuang dari RANU PANE tempat mereka bermalam semenjak datang di kaki MAHAMERU, hingga di subuh-Nya mereka mulai melewati jalan memutar hingga sampai pada pos pertama, yaitu RANU KUMBOLO. Surga-nya MAHAMERU.
Rasa pegal yang dialami rombongan kecil itu bahkan lecetnya tumit Zafran, seolah terbayar dengan pemandangan alam, danau asli nan indah, karya pemiliknya, Allah Subhanahuwata'ala.
MAHAMERU berarti gunung besar. Maha berarti besar dan meru yang berasal dari bahasa jawa, berarti gunung. Keajaibannya belum cukup sampai di Ranu Kumbolo saja. Bagian perjalanan berikutnya akan melewati padang rumput seperti layaknya savana atau stepa mungkin.
Dapatkah kalian membayangkan itu... berjalan dengan mata tertutup, melewati padang rumput dengan tangan membentang. Dapatkah kau rasakan lembutnya di telapak tangan mu ?
Teringat masa ketika berjalan sendiri melewati sedikit ilalang yang tinggi, menanjaki beberapa bebatuan besar, ditemani semilir angin.. hingga sampai ke bangunan masjid, tempat ku menimba ilmu mengaji. tiba-tiba rindu suasana itu..... Kupang, Nusa Tenggara Timur.Merasakan bagaimana suasana mencekam bagi Genta yang harus membawa rombongannya melewati hutan lebat, yang 3 tahun lalu pernah menemaninya dalam kesesatan terpisah dari rombongan selama semalaman. Sampai akhirnya, perasaan percaya membawa mereka melewati hutan dan melihat Edelwise.. sang bunga Abadi. Namun mereka harus patuh, untuk tetap membiarkannya tumbuh di tanah itu.
Sempat menahan nafas, ketika hujan abu MAHAMERU datang memberi salam kepada mereka. Bagaimana rasa peka ketika Riani jatuh akibat kakinya yang kram di dasar KALIMATI pada saat hari mulai gelap. Dan hingga akhirnya mereka mengakhiri perjalanan seharian itu dengan kembali menggelar tenda di ARCOPODO. ARCOPODO juga menyajikan cerita unik di balik namanya.
Sub-bab berikutnya adalah "Pukul 02.20 malam, dingin di atas tiga ribu meter". Detik-detik mendebarkan menuju puncak MAHAMERU. Dimulai dengan singgahnya mereka di pusara Adrian, sahabat Deniek yang menghilang saat pendakian beberapa tahun lalu. Begitu terharunya.. serta satu hal yang kembali diingatkan untuk para pembaca, khairunnas anfauhum linnas.. sebaik-baik manusia adalah yang berguna untuk orang lain.
Awal Bab 9.. 5 cm.
"...keajaiban mimpi, keajaiban cita-cita dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasi dengan angka berapapun..
ARCOPODO MAHAMERU, Tujuh Belas Agustus, Tanah Air ini.
This world is for those who want to fight.
Dunia ini untuk mereka yang mau berjuang. Awal yang kembali menusuk perasaan ini.
Pada bab ini, diceritakan bagaimana perjuangan mereka dengan udara yang semakin menipis, kelelahan yang melanda akibat medan dakian yang semakin vertikal, pesimisnya Arial, dan keindahan.. SAMUDERA DI ATAS AWAN...
Belum sampai di puncak, cobaan sempat datang karena runtuhan bebatuan yang menghujani mereka. Hampir saja, mereka kehilangan Ian yang terluka cukup parah. Tangisan mereka untuk sosok sahabat yang disayangi, namun Tuhan-lah yang berkehendak. Ian mampu bangkit, dan mereka pun meneruskan perjalanan yang tinggal sedikit lagi, setelah Ian dan Zafran sempat disapa oleh seorang mahasiswa beralmamater yang membawa bendera merah-putih.
Dalam berpegangan tangan, mereka menghitung mundur untuk menuju PUNCAK MAHAMERU. Dan akhirnyaaa..... saya bisa ! MAHAMERU tampak sangat indah.
Upacara Kemerdekaan 17 Agustus menjadi upacara bendera mereka yang sangat berarti. Linangan air mata syukur, lantunan Indonesia Raya, posisi hormat dan mata yang terpusat kepada Sang Saka Merah-putih, membuat gemuruh di dada ini.
Robb, ampuni kami yang mungkin hanya terbuka mata dan hati tatkala melihat indahnya alam penciptaan-Mu.Begitulah cerita perjalanan pendakian mereka untuk menaklukan MAHAMERU, disamping cerita magis Ian dan Zafran yang ternyata disapa oleh sosok Adrian yang mereka singgahi pusaranya, atau cerita cinta khas anak muda yang tetap menjadi bumbu tersendiri dalam novel-novel kebanyakan.
Keyword berikutnya adalah..
"...Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri..
Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung, mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu.. cuma..
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja..
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya..
Serta mulut yang akan selalu berdoa..
..... Percaya pada.. 5 centimeter di depan kening kamu".
Persahabatan dan cerita mereka, terus berlanjut hingga kehadiran para junior.
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar