Memang sejak lahir, aku telah berada di tanah Timor. Tepatnya daerah Penfui, NTT. Jika ingin dideskripsikan, sebenarnya aku pun tak terlalu ingat secara detail. Maklum, ingatanku tak cukup kuat waktu itu, sebagai anak kelas 1 SD.
Lahir di sebuah daerah perantauan yang jauh dari kampung halaman kedua orangtua, membuatku jarang berinteraksi dengan saudara. Seingat ku sewaktu TK, aku pernah menulis surat-yang entah apa isinya- untuk nenek dari ibu ku -yang dulu ku panggil mbah haji-. Dari foto-foto zaman dahulu kala yang masih tersimpan dengan baik hingga saat ini, aku pernah sekali berlibur ke jakarta dan jawa. Berfoto bersama saudara-saudara, tapi aku lupa apa saja mommentnya.
Aku bersekolah di TK Angkasa Kupang. Mengapa namanya TK Angkasa ? entahlah.. mungkin karena dekat dengan Bandara El-Tari, Kupang ? atau itu Yayasan punya orang yang kerja di Bandara ? Hehehe... belum dapat jawabannya. Seragam ku masih sangat ku ingat dengan baik. Dengan topi yang sangat lucu. Ada yang warna orange, biru, dan seragam olahraga biru dengan gambar airforce di depannya. ^_^
Ingat ku, aku paling tidak suka jika harus menyantap makan siang di sekolah setiap hari jumat atau sabtu (lupa) dengan menu roti. Aku pun pernah menjadi "abang" betawi sewaktu perayaan Hari Kartini, berpasangan dengan Anisa Fauziah -kenapa dulu ga nolak.... aaarrggghhhh-. Sewaktu TK, sangat suka main ayunan. Berlomba siapa yang dapat terayun hingga jarak yang terjauh dari tanah. Tapi malang, rasanya dulu aku pun pernah jatuh dari ayunan. **atiit... ^%$%%^&$#@
Selasa, 12 Februari 2013
Rabu, 06 Februari 2013
Pindah lagi..
Sejak kecil, sudah terbiasa dengan kata ini.
Berpindah tempat tinggal dan sekolah, karena mengikuti kepindahtugasan Bapak.
Di awal aku lahir, aku berada di tanah Timor. Tepatnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Dari lahir sampai kelas 1 caturwulan II, aku tinggal di daerah Penfui. Kemudian berpindah ke Lasiana sejak SD kelas 1 caturwulan III hingga kelas 4 SD. Surat kepindahan dipegang Bapak lagi. Kali ini ke Lampung. Namun karena setelah di survey "katanya" SD di lampung agak jauh, maka harus rela ditinggal dan melanjutkan bersekolah di Jakarta Timur dari kelas 5 sampai 6 SD. Setelah lulus SD, kembali mengikuti orang tua untuk melanjutkan pendidikan di Lampung. Alhasil, sejak SMP sampai detik ini _masih_ kuliah di Lampung.
Bulan Desember 2012, dapat kabar harus pindah lagi ke Bengkulu. Okelah kalo begitu.
Harus ku selesaikan tugas ku di sini. tak apa harus berdiri dan tertahan sendiri di ranah dua jurai ini untuk beberapa saat. Dan kemudian siap menjelajahi tanah yang lain.
_Selalu ada sensasi di setiap pergerakan_
Berpindah tempat tinggal dan sekolah, karena mengikuti kepindahtugasan Bapak.
Di awal aku lahir, aku berada di tanah Timor. Tepatnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Dari lahir sampai kelas 1 caturwulan II, aku tinggal di daerah Penfui. Kemudian berpindah ke Lasiana sejak SD kelas 1 caturwulan III hingga kelas 4 SD. Surat kepindahan dipegang Bapak lagi. Kali ini ke Lampung. Namun karena setelah di survey "katanya" SD di lampung agak jauh, maka harus rela ditinggal dan melanjutkan bersekolah di Jakarta Timur dari kelas 5 sampai 6 SD. Setelah lulus SD, kembali mengikuti orang tua untuk melanjutkan pendidikan di Lampung. Alhasil, sejak SMP sampai detik ini _masih_ kuliah di Lampung.
Bulan Desember 2012, dapat kabar harus pindah lagi ke Bengkulu. Okelah kalo begitu.
Harus ku selesaikan tugas ku di sini. tak apa harus berdiri dan tertahan sendiri di ranah dua jurai ini untuk beberapa saat. Dan kemudian siap menjelajahi tanah yang lain.
_Selalu ada sensasi di setiap pergerakan_
Rabu, 23 Januari 2013
Trilogi Novel Karya "Uda" Ahmad Fuadi
Bagi seseorang yang mengaku sebagai penggemar buku, seharusnya selalu update tentang buku-buku bagus (dalam hal ini novel) yang patut menjadi referensi menu bacaan di rumah. Tapi ternyata hal ini belum berlaku untuk saya.
Sebenarnya saya mengetahui adanya sebuah buku berjudul Negeri 5 Menara dari iklan di sebuah stasiun televisi swasta yang akan menayangkan kisah tersebut _dalam bentuk film_ sebagai suguhan hiburan akhir tahun. Waw.. ada beberapa point menggelitik disini. Pertama, saya baru "tersadar", bahwa sejak lama judul tersebut tidaklah asing bagi saya. Sepertinya sudah banyak rekan-rekan yang heboh dengan hal tersebut. Kedua, saya baru "tersadar" bahwa judul tersebut sudah dijadikan sebuah film, bahkan kini akan tayang di televisi. Ketiga, saya baru mempunyai keinginan untuk membaca novel ini.
Baiklah, tanpa ragu saya mencoba menjelajahi dunia maya untuk mencari informasi tentang karya Negeri 5 Menara ini. Baik itu gambar, biografi penulis, bahkan mencari link download novel gratisnya. *eh ?
hehehe..
Sebenarnya saya mengetahui adanya sebuah buku berjudul Negeri 5 Menara dari iklan di sebuah stasiun televisi swasta yang akan menayangkan kisah tersebut _dalam bentuk film_ sebagai suguhan hiburan akhir tahun. Waw.. ada beberapa point menggelitik disini. Pertama, saya baru "tersadar", bahwa sejak lama judul tersebut tidaklah asing bagi saya. Sepertinya sudah banyak rekan-rekan yang heboh dengan hal tersebut. Kedua, saya baru "tersadar" bahwa judul tersebut sudah dijadikan sebuah film, bahkan kini akan tayang di televisi. Ketiga, saya baru mempunyai keinginan untuk membaca novel ini.
Baiklah, tanpa ragu saya mencoba menjelajahi dunia maya untuk mencari informasi tentang karya Negeri 5 Menara ini. Baik itu gambar, biografi penulis, bahkan mencari link download novel gratisnya. *eh ?
hehehe..
Senin, 21 Januari 2013
Ikhlas
"Aku ikhlas yaa Alloh..."
Sejatinya kalimat ini benar, tapi bukan sekedar UCAPAN kan.
Ikhlas bukanlah kata pelengkap sebagai salah satu ekspresi "pasrah". Tapi diikuti dengan perbuatan lainnya.
Seperti kata "insyaAlloh" yang bergeser makna untuk alasan menjawab, "tidak".
Seperti pesan dari sebuah film "KIAMAT SUDAH DEKAT", tugas mencari ilmu "IKHLAS". Ikhlas bukan teori yang harus dihafalkan. Ikhlas dicerminkan dengan perbuatan.
Ikhlas, Ridho, Rela untuk melepas sesuatu, jika itu perkaranya.
Ikhlas, Ridho, Rela untuk menjalani sesuatu, jika itu perintahnya.
Ikhlas dengan sesungguhnya, tanpa ada kata TAPI.
Tanpa ada ganjalan lagi di HATI.
Ikhlas, dimiliki HATI yang BERIMAN.
Sejatinya kalimat ini benar, tapi bukan sekedar UCAPAN kan.
Ikhlas bukanlah kata pelengkap sebagai salah satu ekspresi "pasrah". Tapi diikuti dengan perbuatan lainnya.
Seperti kata "insyaAlloh" yang bergeser makna untuk alasan menjawab, "tidak".
Seperti pesan dari sebuah film "KIAMAT SUDAH DEKAT", tugas mencari ilmu "IKHLAS". Ikhlas bukan teori yang harus dihafalkan. Ikhlas dicerminkan dengan perbuatan.
Ikhlas, Ridho, Rela untuk melepas sesuatu, jika itu perkaranya.
Ikhlas, Ridho, Rela untuk menjalani sesuatu, jika itu perintahnya.
Ikhlas dengan sesungguhnya, tanpa ada kata TAPI.
Tanpa ada ganjalan lagi di HATI.
Ikhlas, dimiliki HATI yang BERIMAN.
Langganan:
Postingan (Atom)