Bagi seseorang yang mengaku sebagai penggemar buku, seharusnya selalu update tentang buku-buku bagus (dalam hal ini novel) yang patut menjadi referensi menu bacaan di rumah. Tapi ternyata hal ini belum berlaku untuk saya.
Sebenarnya saya mengetahui adanya sebuah buku berjudul Negeri 5 Menara dari iklan di sebuah stasiun televisi swasta yang akan menayangkan kisah tersebut _dalam bentuk film_ sebagai suguhan hiburan akhir tahun. Waw.. ada beberapa point menggelitik disini. Pertama, saya baru "tersadar", bahwa sejak lama judul tersebut tidaklah asing bagi saya. Sepertinya sudah banyak rekan-rekan yang heboh dengan hal tersebut. Kedua, saya baru "tersadar" bahwa judul tersebut sudah dijadikan sebuah film, bahkan kini akan tayang di televisi. Ketiga, saya baru mempunyai keinginan untuk membaca novel ini.
Baiklah, tanpa ragu saya mencoba menjelajahi dunia maya untuk mencari informasi tentang karya Negeri 5 Menara ini. Baik itu gambar, biografi penulis, bahkan mencari link download novel gratisnya. *eh ?
hehehe..
Singkat tentang Negeri 5 Menara
Novel ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Alif, yang tinggal bersama Amak, Ayah, dan kedua orang adik perempuannya di sebuah daerah di Danau Maninjau, Sumatera Barat. Alif dikisahkan sebagai seorang anak laki-laki pandai, yang lulus dari sebuah Madrasah Tsanawiyah (setara dengan SMP) dengan nilai terbaik. Ia bersama sahabat karib sekaligus lawannya, Randai, sudah bercita-cita menempuh SMA Negeri dan melanjutkan pendidikan ke ITB (Institut Teknologi Bandung), guna menjadi orang yang pandai seperti B.J. Habibie, tokoh kebanggaan dan panutan mereka.
Namun rencana Alif tak berjalan dengan mulus. Amak tercinta memintanya melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah. Memang keluarga Alif berasal dari keluarga yang paham Agama. Ibundanya merasa prihatin dengan kondisi bangsa kini. Orang-orang pintar seperti terseleksi, dan sedikit sekali yang peduli dengan Agama. Sehingga yang tersisa adalah orang-orang yang kurang berkualitas, tak mampu melanjutkan pendidikan dan merekalah yang mengabdi sebagai ustad-ustad di surau-surau desa. Keinginan mulia sang Ibu, tidak hanya untuk buah hatinya saja, tapi demi kemajuan bangsa dan agama. Namun keinginan tersebut ditentang Alif, karena itu berarti impiannya mati.
Dilema melanda hati Alif. Disatu sisi Ia tidak ingin melawan Ibunya. Tapi disatu sisi lain, Ia tak ingin mengubur cita-citanya. Tiga hari Alif mengurung diri di kamar, hingga datanglah surat dari Pak Etek Gindo, pamannya, yang berada di Mesir. Beliau menceritakan banyak rekannya berasal dari sebuah Pondok bernama Pondok Madani di Jawa Timur. Pondok yang berbeda, karena tak hanya membahas tentang ilmu Agama, tapi diajarkan pula untuk pandai berbahasa asing, Arab dan Inggris. Tujuannya, sebagai bahan pertimbangan Alif.
Akhirnya dengan setengah hati Alif menyampaikan keinginannya untuk meneruskan pendidikan di Pondok Madani kepada kedua orangtuanya.
Perjalanan Padang-Jawa timur ditempuh Alif dan Ayahnya dengan perjalanan darat selama tiga hari dua malam. Sesampainya di terminal Ponorogo, Ayah dan Alif dijemput oleh seorang petugas dari Pondok Madani (PM) dan diperjalanan Alif berkenalan dengan Dulmajid yang berasal dari Madura, dan Raja Lubis asal Medan yang tak henti komat-kamit menghafalkan kutipan pidato Bung Karno, Presiden pertama Indonesia.
Sesampainya di halaman PM, terpampang sebuah spanduk besar dengan kalimat : “Ke Madani, Apa yang Kau Cari?”. Tentu saja hati Alif bergetar karenanya. Selanjutnya mereka dipersilahkan untuk registrasi dan diajak berkeliling PM. Kemudian dua ribu calon santri mencoba peruntungan mereka melalui serangkaian test untuk memperebutkan hanya empat ratus kursi sebagai santri baru yang berhak mondok di PM. Alhamdulillah, Alif diterima. Alif berkenalan dengan teman-teman sekamarnya yang antara lain bernama Atang dari Sunda, Said Jufri dari Surabaya, dan Baso Salahuddin dari Gowa. Mereka berenam inilah cikal bakal Shahabul Menara.
Cerita selanjutnya lebih mengupas bagaimana kegiatan Alif dan kawan-kawan di PM.Sejak subuh hingga dini hari. PM memberikan gambaran yang menarik dan unik tentang kehidupan sebenarnya di sebuah Pondok pesantren. Tidak sekaku yang dipikirkan orang namun tetap dengan kedisiplinan yang tinggi. Ada qanun atau peraturan yang harus diperhatikan para santri. Jika tidak, maka bagian tim Keamanan PM yang diketuai Rajab Sukai atau Tyson (panggilan dari anak kelas 1) tak segan untuk menghukum. Shahabul menara ini menemukan Tyson di hari pertama mereka sah sebagai santri.
Dalam pelajaran, Alif dan teman-teman mendapat wali kelas bernama Ustad Salman, yang mengajarkan dan menanamkan makna Man Jadda wajada (siapa yang berusaha akan mendapatkannya), kepada mereka di hari pertama pelajaran di kelas. Tak hanya ilmu Agama, para santri tingkat pertama diwajibkan sejak tiga bulan berikutnya untuk menggunakan bahasa Arab dan Inggris yang telah dijadwalkan. Proses belajar yang memerlukan ekstra perjuangan.
Selain itu juga dikisahkan tentang perjuangan Alif dengan ekstrakurikuler yang dipilihnya, yaitu Jurnalis. Kisah menggelitik tentang perbincangan putri salah seorang Ustad pengajar PM yang bernama Sarah. Ia menarik hati seluruh santri Pria yang masih ABG itu. Lain cerita tentang keberanian dan kecerdikan Alif menerima taruhan temannya untuk dapat berfoto dengan Sarah. Atau perjuangan wartawan PM dalam mencetak sejarah baru bagi PM.
Lain cerita konflik batin yang didapat Shahabul Menara ketika harus merelakan Baso yang keluar dari PM karena sang Nenek sedang sakit parah. selanjutnya ketika Alif harus mengingat cita-citanya menjadi seorang Insinyur, karena PM tidak memberikan ijazah ketika lulus ditahun keempat. Sehingga Ayahnya harus jauh datang dari Bukittinggi hanya untuk membujuk Alif.
Yang selaras dengan judul Novel ini, adalah cerita dan janji 6 orang
sahabat yang sedang duduk di bawah menara di PM, dan mengimajinasikan
aawan-awan yang bergerak sebagai bentuk benua atau negara. Hal tersebut
yang menjadi impian dan janji antar mereka untuk masa yang akan datang.
Alif dengan awan Amerika, Raja dengan awan Eropa, Atang dan Rajo dengan
awan Timur tengah mereka, Said dan Dulmajid dengan awan Indonesia mereka. 5 Negara 4 Benua.
Cerita menarik terakhir disuguhkan tentang pementasan seni yang harus dijalankan Alif dan rekan-rekan satu angkatan ketika berada di tingkat 4. Atau pesan-pesan Kyai Rais, sang pendiri PM untuk santrinya yang telah lulus. Dan shahibul menara-pun berpisah dengan menggenggam janji dan impian mereka. Man jadda wajada.
____****____
Rasa penasaran pasca membaca novel pertama begitu besar. Tanpa berlama-lama, saya segera mencari tahu lewat internet mengenai novel keduanya. Dan ternyata, SUDAH LAMA terbit di awal tahun 2011. Berbeda dengan sebelumnya, saya rasa HARUS membeli novel aslinya, bukan dengan mencari ebook gratisnya lagi. Karena saya rasa, memiliki novel dalam bentuk hardcopy akan lebih menyehatkan dan membebaskan mata saya dari radiasi sinar layar monitor netbook. Selain itu juga saya merasa "adil" dengan sang pemilik karya.
Beberapa hari kemudian salah seorang teman (sebut saja Risa), menawarkan beberapa judul buku islami. Beruntung, ternyata ada juga stock berupa Novel Islami, terlebih masih ada stock Ranah 5 Warna yang langsung saya pesan.
Sekilas tentang Ranah 3 Warna
Jika pada novel Negeri 5 Menara sang penulis mengangkat tentang keajaiban kata "Man jadda wajada" dan aplikasi sederhana Alif dan rekan-rekan dalam proses pendidikan mereka di PM, maka pada novel ke-2 ini sang penulis akan mengeluarkan kata pamungkas berikutnya, yaitu "Man shabara zhafira", siapa yang bersabar maka akan beruntung.
Pada novel kedua ini, diceritakan tentang Alif pasca lulus dari PM. Bagaimana perjuangan Alif untuk menempuh ujian persamaan SMA guna mendapatkan ijazah. Dilanjutkan pula perjuangannya melawan rasa pesimis dan cibiran dari para saudara, teman dan tetangga. Dalam 2 bulan, dirinya harus menaklukkan 3 bukit buku yang sewajarnya diterima selama 3 tahun. Disamping kelapangan dadanya untuk mengubur impiannya ke ITB, karena kenyataannya Alif harus realistis dan mengambil pilihan jurusan IPS.
Alif beruntung, ia diterima sebagai mahasiswa di Universitas Padjajaran, Jurusan Hubungan Internasional. Kembali, cerita tentang perantauan Alif di tanah Jawa. Alif menginap sementara di kamar kost Randai, Sahabatnya di kampung. Di awal perkuliahan, Alif bertemu dengan sahabatnya yang baru. Bersama dengan Wira, Agam dan Memet. Dan ketertarikan Alif dengan Raisa, tetangga kost yang juga kuliah di Unpad.
Namun semuanya terasa menyakitkan ketika Alif mendapat telegram dari Amak, bahwa Ayahnya sedang sakit. Alif kembali pulang ke maninjau, dan merawat Ayahnya yang terlihat sangat lemah. Namun disaat ia hendak kembali ke Bandung, Ayahnya menghebuskan nafas yang terakhir. Gelap dunia Alif. Namun permintaan terakhir Ayahanda dan kekuatan dari Amak, dengan berat hati Alif kembali pada perantauannya.
Hari-hari selanjutnya menjadi suram bagi Alif. kesedihannya diikuti dengan semakin tipisnya uang di dompetnya. Alif harus berhemat. Selain mengajak teman-teman untuk katering, Alif pun harus berebut dengan Asto, teman kostnya untuk mengais sisa nasi dan remahan ekor tongkol di penggorengan untuk mengganjal perut. Jika tidak, maka Alif akan memesan setengah mangkuk bubur ayam dengan tambahan air.
Alif tau hidupnya harus berubah, ia tak mungkin hanya menunggu kiriman Amaknya yang hanya seorang guru di kampung kecil. Akhirnya ia mencoba peruntungan. Dari mengajar privat, hingga mencoba menjajakan dagangan Ibu Randai berupa kain khas minang atau mukenah. Ia pun mampu bangkit. Namun di sebuah malam, ia bertemu preman yang merampas paksa dagangan, uang, hingga sepatu pemberian Ayahnya. Karena memelas, akhirnya sepatu "si Hitam" dikembalikan. Selepas itu, Alif berjuang menuju kostannya. Dan akhirnya rebah di depan pintu dan segera dibawa ke Rumah sakit. Alif sakit Tifus.
Berbulan-bulan ia terbaring. Namun semangat dari sebuah acara di radio membuatnya harus kembali bangkit. Ia kembali mengunjungi Bang Togar, seniornya di kampus untuk dapat diajarkan segala sesuatu tentang dunia menulis. Kerja kerasnya perlahan membuahkan hasil. Ia bahkan berusaha untuk mengirimkan sedikit uang untuk Amaknya di kampung.
Suatu ketika Alif berada di bis. Disebelahnya duduk seorang gadis yang kemudian memberitahukan kepada dirinya bahwa ada pertukaran pelajar ke luar negeri. Alif pun mengikuti serangkaian tes hingga Ia berhasil menjadi salah satu yang beruntung, untuk pergi ke sebuah daerah di Kanada, Amerika, Impiannya.
Di sana Alif mendapat pasangan teman bernama Frank, dan mereka tinggal di rumah orang tua angkat mereka yang baik hati. Selanjutnya adalah kisah tentang pengalaman Alif selama bekerja di sebuah TV lokal dan mengalami banyak hal dan mampu menambah ilmunya.
Kisah ini ditutup dengan lulusnya Alif sebagai seorang Sarjana Hubungan Internasional, dan sebelas tahun kemudian kembali mengunjungi Kanada, bersama istrinya.
___****___
Ranah 3 Warna tak kalah mengesankan dari Negeri 5 Menara. Sehingga hati ini tak sabar untuk membaca kelanjutan kisah Alif berikutnya. Sang penulis, Uda Ahmad Fuadi membocorkan sedikit tentang buku ke-tiga dari triloginya ini. Yaitu tentang perjuangan Alif dewasa dalam menggapai cintanya.
Benar-benar tidak sabar..... ^_^
End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar