"Aku ikhlas yaa Alloh..."
Sejatinya kalimat ini benar, tapi bukan sekedar UCAPAN kan.
Ikhlas bukanlah kata pelengkap sebagai salah satu ekspresi "pasrah". Tapi diikuti dengan perbuatan lainnya.
Seperti kata "insyaAlloh" yang bergeser makna untuk alasan menjawab, "tidak".
Seperti pesan dari sebuah film "KIAMAT SUDAH DEKAT", tugas mencari ilmu "IKHLAS". Ikhlas bukan teori yang harus dihafalkan. Ikhlas dicerminkan dengan perbuatan.
Ikhlas, Ridho, Rela untuk melepas sesuatu, jika itu perkaranya.
Ikhlas, Ridho, Rela untuk menjalani sesuatu, jika itu perintahnya.
Ikhlas dengan sesungguhnya, tanpa ada kata TAPI.
Tanpa ada ganjalan lagi di HATI.
Ikhlas, dimiliki HATI yang BERIMAN.
Senin, 21 Januari 2013
Senin, 05 November 2012
Akan dibawa kemanakah "gelar" mu..
Terinspirasi tulisan saudara ku (yang nggak seberapa tapi luar biasa, he..) Feri Firdaus, S. I.Kom dalam Blog pribadinya yang berjudul MENJEMPUT IMPIAN.
Sepertinya, jadi ingin menulis hal yang mungkin serupa tapi sama sekali tidak sama.
Gelar sarjana.. hal yang membanggakan bagi kebanyakan orang.
Proses pendidikan yang ditempuh dengan penuh perjuangan-versi tiap individu berbeda-tersendiri. Ada yang terhambat karena dana, ada yang tersandung karena "harus" berbagi fokus dan pikiran dengan amanah lain di luar akademik, dan pergolakan batin antara kemauan orang tua dan minat sang anak.
"Man jadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
Kalimat pamungkas yang menjadi tema sebuah Novel yang diluncurkan pula versi filmnya, Negeri 5 Menara.
Bukan untuk membahas bagaimana perjuangan 6 sahabat dan segala ceritanya di Pondok Madani tersebut, tapi kaitan kalimat tersebut dengan "proses pendidikan" yang saya sebutkan sebelumnya.
Bagi mahasiswa yang kali ini ingin saya sebut sebagai "pejuang", keterbatasan dana sering kali tidak menjadi masalah yang berarti. Dunia sudah sangat canggih dengan pola berpikir manusianya yang semakin berkembang. Bukan lagi seperti makhluk nomaden yang mendekati sumber-sumber alam untuk bertahan hidup. Tapi para pejuang itu mampu menaklukan masalahnya dengan berwirausaha misalnya. Dari hal kecil seperti berjualan pulsa, atau sampai hal yang spektakuler seperti bisnis jamur dan menjadi ahli atau master trainer misalnya (hehehe.. yang tau pasti senyum-senyum).
Tak hanya itu, beasiswa yang cukup banyak macamnya juga siap-sedia membantu permasalahan para pejuang itu. Namun untuk yang satu ini, saya masih lugu. Bukan antipati ataupun menjadi orang yang -sok-serba ada. Tapi iilfeel sangat mencederai pandangan saya tentang proses pemilihan kelayakan penerima beasiswa ini. masih jelas dalam ingatan, orang berada dengan kendaraan mobil yang terkadang dikendarainya untuk kuliah, mendapatkan beasiswa yang digunakan untuk -sekedar- mentraktir teman. Sedangkan orang lain yang benar-benar layak, whuuusss... kurang beruntung.
Pertanyaan : Adilkah ?
Sepertinya, jadi ingin menulis hal yang mungkin serupa tapi sama sekali tidak sama.
Gelar sarjana.. hal yang membanggakan bagi kebanyakan orang.
Proses pendidikan yang ditempuh dengan penuh perjuangan-versi tiap individu berbeda-tersendiri. Ada yang terhambat karena dana, ada yang tersandung karena "harus" berbagi fokus dan pikiran dengan amanah lain di luar akademik, dan pergolakan batin antara kemauan orang tua dan minat sang anak.
"Man jadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
Kalimat pamungkas yang menjadi tema sebuah Novel yang diluncurkan pula versi filmnya, Negeri 5 Menara.
Bukan untuk membahas bagaimana perjuangan 6 sahabat dan segala ceritanya di Pondok Madani tersebut, tapi kaitan kalimat tersebut dengan "proses pendidikan" yang saya sebutkan sebelumnya.
Bagi mahasiswa yang kali ini ingin saya sebut sebagai "pejuang", keterbatasan dana sering kali tidak menjadi masalah yang berarti. Dunia sudah sangat canggih dengan pola berpikir manusianya yang semakin berkembang. Bukan lagi seperti makhluk nomaden yang mendekati sumber-sumber alam untuk bertahan hidup. Tapi para pejuang itu mampu menaklukan masalahnya dengan berwirausaha misalnya. Dari hal kecil seperti berjualan pulsa, atau sampai hal yang spektakuler seperti bisnis jamur dan menjadi ahli atau master trainer misalnya (hehehe.. yang tau pasti senyum-senyum).
Tak hanya itu, beasiswa yang cukup banyak macamnya juga siap-sedia membantu permasalahan para pejuang itu. Namun untuk yang satu ini, saya masih lugu. Bukan antipati ataupun menjadi orang yang -sok-serba ada. Tapi iilfeel sangat mencederai pandangan saya tentang proses pemilihan kelayakan penerima beasiswa ini. masih jelas dalam ingatan, orang berada dengan kendaraan mobil yang terkadang dikendarainya untuk kuliah, mendapatkan beasiswa yang digunakan untuk -sekedar- mentraktir teman. Sedangkan orang lain yang benar-benar layak, whuuusss... kurang beruntung.
Pertanyaan : Adilkah ?
Surat terakhir untuk mu..
Sinar mentari kian memudar
Lembayung senjapun makin merona
Membias indah ke wajah rembulan
Yang malu-malu menatap sang malam
Untaian bintang berkelip benderang
Menghias angkasa yang gulita
Kucoba arungi malam yang sunyi
Di dalam dzikir hatiku padaNya
Ya Allah ? kini malamMu t'lah singgah
Ke dalam hati hambamu yang resah
Ya Allah ? lukisan malamMu nan megah
Iringi daku sujud, bermuhasabah
Sinar mentari bersinar lagi
Menyapa kilauan siembun pagi
Kicau kenari sapa melati
Menjadi melodi warnai hari
Langit biru berhiaskan awan
Mengajak sang surya beranjak terang
Hangat sinarnya beri harapan
'Tuk isi hari yang t'lah Kau beri
Ya Robbi ? siangmu kini kembali
Kan kucari rizki dan taqwa diri
Ya Robbi ? kini kian aku sadari
Dimalam dan siang hari
Bismillahirrohmaanirrohiim...
Teruntuk adikku, Nadia. Adik yang sangat Mas sayang.
Lembayung senjapun makin merona
Membias indah ke wajah rembulan
Yang malu-malu menatap sang malam
Untaian bintang berkelip benderang
Menghias angkasa yang gulita
Kucoba arungi malam yang sunyi
Di dalam dzikir hatiku padaNya
Ya Allah ? kini malamMu t'lah singgah
Ke dalam hati hambamu yang resah
Ya Allah ? lukisan malamMu nan megah
Iringi daku sujud, bermuhasabah
Sinar mentari bersinar lagi
Menyapa kilauan siembun pagi
Kicau kenari sapa melati
Menjadi melodi warnai hari
Langit biru berhiaskan awan
Mengajak sang surya beranjak terang
Hangat sinarnya beri harapan
'Tuk isi hari yang t'lah Kau beri
Ya Robbi ? siangmu kini kembali
Kan kucari rizki dan taqwa diri
Ya Robbi ? kini kian aku sadari
Dimalam dan siang hari
Bismillahirrohmaanirrohiim...
Teruntuk adikku, Nadia. Adik yang sangat Mas sayang.
Senin, 29 Oktober 2012
Mencari "putih-merah"
Seminggu ini, bertemakan melacak keberadaan teman-teman di masa 'putih-merah'.
Yah.. tugas cukup berat (he..), karena sebenarnya ingin sekali bertemu mereka dari 3 sekolah yang berbeda.
SD Angkasa Kupang, SD Inpres Oesapa Kupang, dan SD Cawang 08 pagi.
Namun kali ini, berkesempatan untuk 'menemukan' mereka yang pernah bersama dalam 1 kelas, di salah satu ruangan kelas SD 08, yg trmasuk dalam kompleks beberapa SD (SD 07, SD 13), yang berada di gang waru, jl. Dewi Sartika, Jakarta Timur.
Bermula, sekitar 1 tahun lalu.. mencoba mencari beberapa nama yang masih tersimpan rapi di otak. bukan ke 'mbah google', tapi jejaring sosial yang katanya banyak digunakan orang2 sejagat bumi ini.
^_^
akhirnya menemukan sebuah nama, Mega Seoulviana. Setelah dilihat foto dan bertanya via inbox.. ternyata benar.. #senengbanget.
Lupa persisnya kapan, bertambah lah hasil pencarian.. yaitu Ika Novitasari. ^_^
berbulan-bulan terlupakan, (wlw msih sesekali komunikasi dengan mereka berdua) pencarian terhenti. he..
Seminggu kemarin, ada inbox masuk.
dibaca : Duwi Prastiwi (mm.. siapa y ?)
whaa.. trnyta Duwi.. sekelas waktu di SD 08. Lanjut sms'an.. eh, dikasih no Henry.
Besoknya, SMS Henry deh, dan ternyata beliau masih ingat. #Alhamdulillah..
SMS'an.. tukeran alamat FB.. Beliau lantas bilang, ada beberapa teman lain yang ternyata sudah jadi 'friend' di FB.
Pencarian... dimulai lagi !
Hmm.. menemukan nama Arii, Arya, Rizal, dan Adi N Ichsan. Semua nya aku inbox dengan kalimat yang sama. Kurang lebih isinya "Maaf,ini... alumni SD Cawang 08 y ? msh inget sm aq ga ?"
#he... :p
Dr beberapa, yang respon baru Adi. Adi, teman sekelas yang 'rebutan' rangking 1 selama 2 tahun. ^_^
Dengan beliau, kembali sedikit kenangan mulai terputar kembali seperti film zaman dulu yang hitam-putih.
Beliau juga cerita tentang Bu sonta, wali kelas kami yang sekarang jadi Kepala Sekolah di 08.
Mang Jaya, penjaga sekolah yg trnyta msh setia di 08.
Mengingat nama beberapa teman, yang selama ini tergambar dalam sebuah foto yang sudah buram.
Foto sekelas, saat ulang tahun mega.. 13 tahun lalu.
Selanjutnya juga mencari FB Didit, dan.. ketemu.
Ternyata beliau baru nikah minggu kemarin.. ^_^
hmm.. Alhamdulillah, sangat senang. Semoga 21 personil itu bertemu. Suatu saat nanti.
Aamiin..
tntu saja di 08. insyaAlloh..
______*****_____
Karena pertemanan itu bukan utk dilupakan dan dilewatkan begitu saja.
Yah.. tugas cukup berat (he..), karena sebenarnya ingin sekali bertemu mereka dari 3 sekolah yang berbeda.
SD Angkasa Kupang, SD Inpres Oesapa Kupang, dan SD Cawang 08 pagi.
Namun kali ini, berkesempatan untuk 'menemukan' mereka yang pernah bersama dalam 1 kelas, di salah satu ruangan kelas SD 08, yg trmasuk dalam kompleks beberapa SD (SD 07, SD 13), yang berada di gang waru, jl. Dewi Sartika, Jakarta Timur.
Bermula, sekitar 1 tahun lalu.. mencoba mencari beberapa nama yang masih tersimpan rapi di otak. bukan ke 'mbah google', tapi jejaring sosial yang katanya banyak digunakan orang2 sejagat bumi ini.
^_^
akhirnya menemukan sebuah nama, Mega Seoulviana. Setelah dilihat foto dan bertanya via inbox.. ternyata benar.. #senengbanget.
Lupa persisnya kapan, bertambah lah hasil pencarian.. yaitu Ika Novitasari. ^_^
berbulan-bulan terlupakan, (wlw msih sesekali komunikasi dengan mereka berdua) pencarian terhenti. he..
Seminggu kemarin, ada inbox masuk.
dibaca : Duwi Prastiwi (mm.. siapa y ?)
whaa.. trnyta Duwi.. sekelas waktu di SD 08. Lanjut sms'an.. eh, dikasih no Henry.
Besoknya, SMS Henry deh, dan ternyata beliau masih ingat. #Alhamdulillah..
SMS'an.. tukeran alamat FB.. Beliau lantas bilang, ada beberapa teman lain yang ternyata sudah jadi 'friend' di FB.
Pencarian... dimulai lagi !
Hmm.. menemukan nama Arii, Arya, Rizal, dan Adi N Ichsan. Semua nya aku inbox dengan kalimat yang sama. Kurang lebih isinya "Maaf,ini... alumni SD Cawang 08 y ? msh inget sm aq ga ?"
#he... :p
Dr beberapa, yang respon baru Adi. Adi, teman sekelas yang 'rebutan' rangking 1 selama 2 tahun. ^_^
Dengan beliau, kembali sedikit kenangan mulai terputar kembali seperti film zaman dulu yang hitam-putih.
Beliau juga cerita tentang Bu sonta, wali kelas kami yang sekarang jadi Kepala Sekolah di 08.
Mang Jaya, penjaga sekolah yg trnyta msh setia di 08.
Mengingat nama beberapa teman, yang selama ini tergambar dalam sebuah foto yang sudah buram.
Foto sekelas, saat ulang tahun mega.. 13 tahun lalu.
Selanjutnya juga mencari FB Didit, dan.. ketemu.
Ternyata beliau baru nikah minggu kemarin.. ^_^
hmm.. Alhamdulillah, sangat senang. Semoga 21 personil itu bertemu. Suatu saat nanti.
Aamiin..
tntu saja di 08. insyaAlloh..
______*****_____
Karena pertemanan itu bukan utk dilupakan dan dilewatkan begitu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
