Terinspirasi tulisan saudara ku (yang nggak seberapa tapi luar biasa, he..) Feri Firdaus, S. I.Kom dalam Blog pribadinya yang berjudul MENJEMPUT IMPIAN.
Sepertinya, jadi ingin menulis hal yang mungkin serupa tapi sama sekali tidak sama.
Gelar sarjana.. hal yang membanggakan bagi kebanyakan orang.
Proses pendidikan yang ditempuh dengan penuh perjuangan-versi tiap individu berbeda-tersendiri. Ada yang terhambat karena dana, ada yang tersandung karena "harus" berbagi fokus dan pikiran dengan amanah lain di luar akademik, dan pergolakan batin antara kemauan orang tua dan minat sang anak.
"Man jadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
Kalimat pamungkas yang menjadi tema sebuah Novel yang diluncurkan pula versi filmnya, Negeri 5 Menara.
Bukan untuk membahas bagaimana perjuangan 6 sahabat dan segala ceritanya di Pondok Madani tersebut, tapi kaitan kalimat tersebut dengan "proses pendidikan" yang saya sebutkan sebelumnya.
Bagi mahasiswa yang kali ini ingin saya sebut sebagai "pejuang", keterbatasan dana sering kali tidak menjadi masalah yang berarti. Dunia sudah sangat canggih dengan pola berpikir manusianya yang semakin berkembang. Bukan lagi seperti makhluk nomaden yang mendekati sumber-sumber alam untuk bertahan hidup. Tapi para pejuang itu mampu menaklukan masalahnya dengan berwirausaha misalnya. Dari hal kecil seperti berjualan pulsa, atau sampai hal yang spektakuler seperti bisnis jamur dan menjadi ahli atau master trainer misalnya (hehehe.. yang tau pasti senyum-senyum).
Tak hanya itu, beasiswa yang cukup banyak macamnya juga siap-sedia membantu permasalahan para pejuang itu. Namun untuk yang satu ini, saya masih lugu. Bukan antipati ataupun menjadi orang yang -sok-serba ada. Tapi iilfeel sangat mencederai pandangan saya tentang proses pemilihan kelayakan penerima beasiswa ini. masih jelas dalam ingatan, orang berada dengan kendaraan mobil yang terkadang dikendarainya untuk kuliah, mendapatkan beasiswa yang digunakan untuk -sekedar- mentraktir teman. Sedangkan orang lain yang benar-benar layak, whuuusss... kurang beruntung.
Pertanyaan : Adilkah ?
Selanjutnya bagi para pejuang yang berkontribusi dengan sepenuh hati dalam sebuah wadah organisasi yang diminatinya, terkadang menjadi penunda sementara kelulusan yang amat dinantikan orangtua. Ini bukan -sekedar- tuduhan, karena segelintir pejuang itu mengalami hal tersebut. Tapi niat dan tekad mereka sangat besar, lillahita'ala.
Bagi mereka yang mampu memberikan pemahaman kepada orang tua akan pilihan mereka itu, tentu saja tidak menjadi masalah yang sangat besar. Akan tetapi bagaimana dengan mereka yang terpaksa harus "kucing-kucingan" dengan orang tua ?
Pertanyaan : Ridho Alloh, ridho orang tua. Jika Orang tua tidak Ridho, maka ? Dengan tuntutan amanah yang tetap harus dijalankan atas nama orang banyak.
Dan, pejuang yang pernah saya temukan. Pejuang yang dengan terpaksa harus menuruti keinginan orang tua, padahal minatnya sangat berbeda. Pejuang menjadi tertekan. Atau contoh familiarnya adalah karya seniman India dalam sosok Raju di film 3 idiots. Bagaimana bisa Raju yang berbakat fotografer dipaksa masuk universitas berbasis ilmu Teknik.
Pada bagian lain, saya sangat terinspirasi dengan film 3 idiots tersebut.
Pesan yang dapat saya simpulkan, "Pergilah, kejar ilmu yang kau suka, yang kau minati, jalani semua itu dengan hati". Bukan-sekedar- gelar.
Bahkan beberapa pekan lalu saya sempat berbicara dengan seorang teman yang baru selesai menjalani ujian Komperhensif dan secara tak langsung, beliau sudah mendapatkan gelarnya (walau belum sah). Pertanyaan yang saya ajukan adalah, "Rencana mau kerja di bidang apa ?". Jawabannya "Entahlah, mungkin coba daftar PNS, kalau tidak ya coba daftar di Bank, seperti kebanyakan alumni".
Lantas kemana "lari"nya ilmu dan penelitian yang baru saja dipertanggungjawabkan ?
Beban rasanya ketika membaca "semoga ilmunya berkah". Padahal di sepanjang sisa hidupnya, mungkin tak akan pernah menyentuh ilmu di bangku perkuliahannya terdahulu.
Pertanyaan : Dzholim-kah ?
Akan dibawa kemanakah gelar mu...
Tetap idealis atau sedikit bergeser demi kebutuhan.
Kebutuhan akan gelar yang menjanjikan posisi yang -lebih sedikit-baik dengan upah yang lumayan menjanjikan, apapun bidangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar