Tahun 1998, mendapat perintah dipindahtugaskan ke Lampung. Cerita menarik dalam perjalanannya. Ketika itu kepindahan kami sekeluarga tidak semerta-merta langsung menuju ke ujung bawah pulau Sumatera itu dengan perjalanan udara. Melainkan melewati jalur darat. Persisnya aku tidak begitu ingat. Yang tersimpan di memori adalah perjuangan berdesakan dengan ratusan atau ribuan orang untuk menaiki kapal -yang aku lupa namanya-. Kapal tersebut melayani penyebrangan Kupang-Bali. Benar-benar menyedihkan. Berhimpitan, berjuang, berebut, dan berlomba untuk masuk. Peluh tak sedikit yang jatuh bercucuran. Bahkan aku merasa kakiku tak berpijak dengan sempurna. Badan ku terdorong agak ke belakang. Malas aku mengingat kondisi seperti itu. Dengan perjuangan, kami sampai di dalam kapal, dan berlayar mungkin sampai satu hari.
Sampailah di pulau Bali. Di Bali, aku, adikku yang kala itu masih berusia 4 tahun, ibu dan Ayahku menginap di Losmen Anom Bali. Sekalian liburan, kami menginap hampir 2 hari. Kali itu aku sudah lebih banyak mengingat kejadian yang terekam dalam memori otakku. Losmen sederhana namun tertata apik. Banyak ornamen khas Bali. Aku pun merasakan susahnya mencari makan di sana, karena sedikit sulitnya mencari label makanan halal yang enak. Akhirnya, sambil menyaksikan bunyi-bunyian musik Bali yang bertalu-talu, kami -sepertinya- menyantap soto -saja-.
Keesokan harinya, kami sekeluarga mengunjungi rumah Pak Budi, teman Bapak yang lebih dulu pindah ke Bali. Dan pulangnya kami diantar ke Losmen, sambil melewati iringan ngaben. Aku semakin sangat terpesona dengan Bali dan kebudayaannya. Di sore hari, kami bermain di Pantai Kuta sambil menikmati -yang kini ku mengerti artinya- sunset. Hari berikutnya kami pun melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Tempat Nenek -ibu dari ibu ku-. Kali ini bukan jalan darat, melainkan naik pesawat dari Bandara Ngurah Rai ke Halim.
Sekian.
Jumat, 15 Februari 2013
Selasa, 12 Februari 2013
Masa-masa di Kupang (2)
Kali ini cerita ku di Lasiana, selama kurang lebih 3 tahun 4 bulan,
pasca pindah dari Penfui. Setelah pindah ke Lasiana, aku bersekolah di
SD Inpres Oesapa, Kupang. Jaraknya lumayan jauh dari rumah, tapi aku
selalu senang untuk melewatinya dengan berjalan kaki setiap sepulang
sekolah.
Berbeda dengan SD ku yang dulu, SD Inpres Oesapa ini membuat ku menjadi "warga" beragama minoritas. bagaimana tidak, satu sekolah seingat ku hanya 5 murid dari 6 kelas yang beragama Islam. Sedangkan gurunya pun sepertinya hanya 1 orang yang muslim. Walau muslim sendiri di kelas, namun teman-teman tidak membeda-bedakan aku. Dulu di awal pernah ada guru agama islam. 5 murid itu akan berkumpul untuk belajar agama islam. Namun entah bagaimana dan kapan, seingat ku Guru agama islam ku tidak mengajar lagi. Aku pun diminta bermain sendirian di luar kelas atau sekitaran halaman sekolah, jika waktu jam pelajaran agama non Islam diadakan. *sediiihh.. kayak anak hilang T_T
Bagaimana dengan nilai agama ku di raport ? Mm.. dulu pernah nilai ku 8 -entah dari mana-, pernah juga nilai agama ku dikosongkan, sehingga nilai totalnya merosot 7-8 angka. Tapi Alhamdulillah, aku masih bisa mempertahankan peringkat 1 di halaman-halaman raport selama kelas 1 cawu 3 sampai kelas 4 SD di SD Inpres Oesapa ini.
Lain cerita ketika lingkungan sekitaran sekolah ku yang merupakan beberapa rumah Guru dan penjaga sekolah, yang memelihara Babi -maaf-. Babi-babi tersebut ada yang dilepas begitu saja, atau ada pula yang dikurung dalam kandang terbuka dan diberi pembatas pagar. Sehingga bagi ku dulu itu pemandangan "biasa". Suatu waktu, aku lupa ada acara apa di sekolah. seorang guru meminta ku meminjam golok ke seorang Bu guru, yang rumahnya tepat di belakang sekolah. Namun secara halus Ibu guru menyuruhku memanggilkan teman yang lain untuk mengambilnya, karena golok tersebut habis dipakai untuk menyembelih Babi. Dan beliau takut aku terkena najis. *Hehehe...
Aku tak begitu suka jika jam upacara tiba setiap hari senin pagi. Bukan karena aku tak suka upacara, bukan. Tapi aku akan berdiri menggeliat di bawah terik matahari. Terkadang tanah halaman sekolah yang full ditutupi dengan batu karang dan kerikil, dihiasi ulat-ulat kecil yang tidak bisa dibilang sedikit, yang seperti berenang -timbul tenggelam- dalam bebatuan itu. *hihihi...:(
Tapi sejak kelas 3 dan 4, ketika saat itu sedang heboh senam SKJ dan kami diminta untuk bergiliran setiap kelas untuk menjadi pemandu senam di depan.. Aku tak pernah absen menjadi salah satu "instruktur" ketika jadwal senam datang.
Berbeda dengan SD ku yang dulu, SD Inpres Oesapa ini membuat ku menjadi "warga" beragama minoritas. bagaimana tidak, satu sekolah seingat ku hanya 5 murid dari 6 kelas yang beragama Islam. Sedangkan gurunya pun sepertinya hanya 1 orang yang muslim. Walau muslim sendiri di kelas, namun teman-teman tidak membeda-bedakan aku. Dulu di awal pernah ada guru agama islam. 5 murid itu akan berkumpul untuk belajar agama islam. Namun entah bagaimana dan kapan, seingat ku Guru agama islam ku tidak mengajar lagi. Aku pun diminta bermain sendirian di luar kelas atau sekitaran halaman sekolah, jika waktu jam pelajaran agama non Islam diadakan. *sediiihh.. kayak anak hilang T_T
Bagaimana dengan nilai agama ku di raport ? Mm.. dulu pernah nilai ku 8 -entah dari mana-, pernah juga nilai agama ku dikosongkan, sehingga nilai totalnya merosot 7-8 angka. Tapi Alhamdulillah, aku masih bisa mempertahankan peringkat 1 di halaman-halaman raport selama kelas 1 cawu 3 sampai kelas 4 SD di SD Inpres Oesapa ini.
Lain cerita ketika lingkungan sekitaran sekolah ku yang merupakan beberapa rumah Guru dan penjaga sekolah, yang memelihara Babi -maaf-. Babi-babi tersebut ada yang dilepas begitu saja, atau ada pula yang dikurung dalam kandang terbuka dan diberi pembatas pagar. Sehingga bagi ku dulu itu pemandangan "biasa". Suatu waktu, aku lupa ada acara apa di sekolah. seorang guru meminta ku meminjam golok ke seorang Bu guru, yang rumahnya tepat di belakang sekolah. Namun secara halus Ibu guru menyuruhku memanggilkan teman yang lain untuk mengambilnya, karena golok tersebut habis dipakai untuk menyembelih Babi. Dan beliau takut aku terkena najis. *Hehehe...
Aku tak begitu suka jika jam upacara tiba setiap hari senin pagi. Bukan karena aku tak suka upacara, bukan. Tapi aku akan berdiri menggeliat di bawah terik matahari. Terkadang tanah halaman sekolah yang full ditutupi dengan batu karang dan kerikil, dihiasi ulat-ulat kecil yang tidak bisa dibilang sedikit, yang seperti berenang -timbul tenggelam- dalam bebatuan itu. *hihihi...:(
Tapi sejak kelas 3 dan 4, ketika saat itu sedang heboh senam SKJ dan kami diminta untuk bergiliran setiap kelas untuk menjadi pemandu senam di depan.. Aku tak pernah absen menjadi salah satu "instruktur" ketika jadwal senam datang.
Masa-masa di kupang (1)
Memang sejak lahir, aku telah berada di tanah Timor. Tepatnya daerah Penfui, NTT. Jika ingin dideskripsikan, sebenarnya aku pun tak terlalu ingat secara detail. Maklum, ingatanku tak cukup kuat waktu itu, sebagai anak kelas 1 SD.
Lahir di sebuah daerah perantauan yang jauh dari kampung halaman kedua orangtua, membuatku jarang berinteraksi dengan saudara. Seingat ku sewaktu TK, aku pernah menulis surat-yang entah apa isinya- untuk nenek dari ibu ku -yang dulu ku panggil mbah haji-. Dari foto-foto zaman dahulu kala yang masih tersimpan dengan baik hingga saat ini, aku pernah sekali berlibur ke jakarta dan jawa. Berfoto bersama saudara-saudara, tapi aku lupa apa saja mommentnya.
Aku bersekolah di TK Angkasa Kupang. Mengapa namanya TK Angkasa ? entahlah.. mungkin karena dekat dengan Bandara El-Tari, Kupang ? atau itu Yayasan punya orang yang kerja di Bandara ? Hehehe... belum dapat jawabannya. Seragam ku masih sangat ku ingat dengan baik. Dengan topi yang sangat lucu. Ada yang warna orange, biru, dan seragam olahraga biru dengan gambar airforce di depannya. ^_^
Ingat ku, aku paling tidak suka jika harus menyantap makan siang di sekolah setiap hari jumat atau sabtu (lupa) dengan menu roti. Aku pun pernah menjadi "abang" betawi sewaktu perayaan Hari Kartini, berpasangan dengan Anisa Fauziah -kenapa dulu ga nolak.... aaarrggghhhh-. Sewaktu TK, sangat suka main ayunan. Berlomba siapa yang dapat terayun hingga jarak yang terjauh dari tanah. Tapi malang, rasanya dulu aku pun pernah jatuh dari ayunan. **atiit... ^%$%%^&$#@
Lahir di sebuah daerah perantauan yang jauh dari kampung halaman kedua orangtua, membuatku jarang berinteraksi dengan saudara. Seingat ku sewaktu TK, aku pernah menulis surat-yang entah apa isinya- untuk nenek dari ibu ku -yang dulu ku panggil mbah haji-. Dari foto-foto zaman dahulu kala yang masih tersimpan dengan baik hingga saat ini, aku pernah sekali berlibur ke jakarta dan jawa. Berfoto bersama saudara-saudara, tapi aku lupa apa saja mommentnya.
Aku bersekolah di TK Angkasa Kupang. Mengapa namanya TK Angkasa ? entahlah.. mungkin karena dekat dengan Bandara El-Tari, Kupang ? atau itu Yayasan punya orang yang kerja di Bandara ? Hehehe... belum dapat jawabannya. Seragam ku masih sangat ku ingat dengan baik. Dengan topi yang sangat lucu. Ada yang warna orange, biru, dan seragam olahraga biru dengan gambar airforce di depannya. ^_^
Ingat ku, aku paling tidak suka jika harus menyantap makan siang di sekolah setiap hari jumat atau sabtu (lupa) dengan menu roti. Aku pun pernah menjadi "abang" betawi sewaktu perayaan Hari Kartini, berpasangan dengan Anisa Fauziah -kenapa dulu ga nolak.... aaarrggghhhh-. Sewaktu TK, sangat suka main ayunan. Berlomba siapa yang dapat terayun hingga jarak yang terjauh dari tanah. Tapi malang, rasanya dulu aku pun pernah jatuh dari ayunan. **atiit... ^%$%%^&$#@
Rabu, 06 Februari 2013
Pindah lagi..
Sejak kecil, sudah terbiasa dengan kata ini.
Berpindah tempat tinggal dan sekolah, karena mengikuti kepindahtugasan Bapak.
Di awal aku lahir, aku berada di tanah Timor. Tepatnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Dari lahir sampai kelas 1 caturwulan II, aku tinggal di daerah Penfui. Kemudian berpindah ke Lasiana sejak SD kelas 1 caturwulan III hingga kelas 4 SD. Surat kepindahan dipegang Bapak lagi. Kali ini ke Lampung. Namun karena setelah di survey "katanya" SD di lampung agak jauh, maka harus rela ditinggal dan melanjutkan bersekolah di Jakarta Timur dari kelas 5 sampai 6 SD. Setelah lulus SD, kembali mengikuti orang tua untuk melanjutkan pendidikan di Lampung. Alhasil, sejak SMP sampai detik ini _masih_ kuliah di Lampung.
Bulan Desember 2012, dapat kabar harus pindah lagi ke Bengkulu. Okelah kalo begitu.
Harus ku selesaikan tugas ku di sini. tak apa harus berdiri dan tertahan sendiri di ranah dua jurai ini untuk beberapa saat. Dan kemudian siap menjelajahi tanah yang lain.
_Selalu ada sensasi di setiap pergerakan_
Berpindah tempat tinggal dan sekolah, karena mengikuti kepindahtugasan Bapak.
Di awal aku lahir, aku berada di tanah Timor. Tepatnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Dari lahir sampai kelas 1 caturwulan II, aku tinggal di daerah Penfui. Kemudian berpindah ke Lasiana sejak SD kelas 1 caturwulan III hingga kelas 4 SD. Surat kepindahan dipegang Bapak lagi. Kali ini ke Lampung. Namun karena setelah di survey "katanya" SD di lampung agak jauh, maka harus rela ditinggal dan melanjutkan bersekolah di Jakarta Timur dari kelas 5 sampai 6 SD. Setelah lulus SD, kembali mengikuti orang tua untuk melanjutkan pendidikan di Lampung. Alhasil, sejak SMP sampai detik ini _masih_ kuliah di Lampung.
Bulan Desember 2012, dapat kabar harus pindah lagi ke Bengkulu. Okelah kalo begitu.
Harus ku selesaikan tugas ku di sini. tak apa harus berdiri dan tertahan sendiri di ranah dua jurai ini untuk beberapa saat. Dan kemudian siap menjelajahi tanah yang lain.
_Selalu ada sensasi di setiap pergerakan_
Langganan:
Postingan (Atom)