Kali ini cerita ku di Lasiana, selama kurang lebih 3 tahun 4 bulan,
pasca pindah dari Penfui. Setelah pindah ke Lasiana, aku bersekolah di
SD Inpres Oesapa, Kupang. Jaraknya lumayan jauh dari rumah, tapi aku
selalu senang untuk melewatinya dengan berjalan kaki setiap sepulang
sekolah.
Berbeda dengan SD ku yang dulu, SD Inpres Oesapa ini membuat ku
menjadi "warga" beragama minoritas. bagaimana tidak, satu sekolah
seingat ku hanya 5 murid dari 6 kelas yang beragama Islam. Sedangkan
gurunya pun sepertinya hanya 1 orang yang muslim. Walau muslim sendiri
di kelas, namun teman-teman tidak membeda-bedakan aku. Dulu di awal
pernah ada guru agama islam. 5 murid itu akan berkumpul untuk belajar
agama islam. Namun entah bagaimana dan kapan, seingat ku Guru agama
islam ku tidak mengajar lagi. Aku pun diminta bermain sendirian di luar
kelas atau sekitaran halaman sekolah, jika waktu jam pelajaran agama non
Islam diadakan. *sediiihh.. kayak anak hilang T_T
Bagaimana dengan nilai agama ku di raport ? Mm.. dulu pernah nilai ku 8
-entah dari mana-, pernah juga nilai agama ku dikosongkan, sehingga
nilai totalnya merosot 7-8 angka. Tapi Alhamdulillah, aku masih
bisa mempertahankan peringkat 1 di halaman-halaman raport selama kelas 1
cawu 3 sampai kelas 4 SD di SD Inpres Oesapa ini.
Lain cerita
ketika lingkungan sekitaran sekolah ku yang merupakan beberapa rumah
Guru dan penjaga sekolah, yang memelihara Babi -maaf-. Babi-babi
tersebut ada yang dilepas begitu saja, atau ada pula yang dikurung dalam
kandang terbuka dan diberi pembatas pagar. Sehingga bagi ku dulu itu
pemandangan "biasa". Suatu waktu, aku lupa ada acara apa di sekolah.
seorang guru meminta ku meminjam golok ke seorang Bu guru, yang rumahnya
tepat di belakang sekolah. Namun secara halus Ibu guru menyuruhku
memanggilkan teman yang lain untuk mengambilnya, karena golok tersebut
habis dipakai untuk menyembelih Babi. Dan beliau takut aku terkena
najis. *Hehehe...
Aku tak begitu suka jika jam upacara tiba setiap hari senin pagi.
Bukan karena aku tak suka upacara, bukan. Tapi aku akan berdiri
menggeliat di bawah terik matahari. Terkadang tanah halaman sekolah yang
full ditutupi dengan batu karang dan kerikil, dihiasi ulat-ulat
kecil yang tidak bisa dibilang sedikit, yang seperti berenang -timbul
tenggelam- dalam bebatuan itu. *hihihi...:(
Tapi sejak kelas 3 dan
4, ketika saat itu sedang heboh senam SKJ dan kami diminta untuk
bergiliran setiap kelas untuk menjadi pemandu senam di depan.. Aku tak
pernah absen menjadi salah satu "instruktur" ketika jadwal senam datang.
Jajanan
yang menjadi favoritku selama bersekolah di SD Inpres Oesapa adalah
nasi kuningnya Mama... (lupa namanya). Asli uenaaakkk banget. Harganya
dulu cuma 50 rupiah setiap mangkoknya. Sampai rebutan mangkok demi
mendapatkan nasi kuning dengan lauk serutan tumis pepaya dan sambal
bawangnya. Mantabbb.. ^_^
Selain itu ketika kebagian sekolah
siang, aku dan teman-teman juga rebutan "salome". Rupa panganan ini
seperti somay berbentuk bulat-bulat kecil yang ditusuk seperti sate.
kemudian dimakan dengan celupan saos. Benar-benar kecil, sesuai dengan
harganya 25 rupiah per tusuk.
Sesekali aku juga pernah mendengar
orang menjajakan dagangan di pikulan pundaknya, dan berteriak "daging
se'i, daging se'i". Belakangan aku -dan ibuku- baru tau kalau se'i itu
adalah daging nyemot.. eh monyet.
Di sekolah, aku pernah berbuat nakal -lagi-. Seperti layaknya
ketua genk, aku pernah meminta beberapa teman menjemputku ke rumah untuk
pergi ke sekolah bersama-sama, berangkat dengan sangat santai. Namun
sesampainya di sekolah, kami terlambat. Entah waktu itu kami dimarahi
atau tidak, aku lupa.
Waktu jam olahraga, aku paling tidak suka -sampai sekarang, hahaha-.
Pasti kami akan pemanasan dengan lari keliling kampung yang jaraknya
tidak bisa disebut dekat. Dan selanjutnya kasti. Permainan yang -juga-
aku tidak suka. Tapi mata ku akan berbinar jika kami akan olahraga di
pantai. Berlari sekalian pemanasan dari sekolah menuju pantai, yang
sangat aku nikmati ketika kaki-kaki telanjang kami menyentuh lembutnya
bibir pantai Lasiana. Belum lama, senyum ku pasti kecut lagi, jika
olahraga di pantai saat itu adalah lomba lari. Ooomiiigggooottt...
&)(*^%%%$#@
Lain di sekolah, lain pula cerita di perumahan atau dalam komplek
Klimatologi, Lasiana, Kupang. Di kompleks ini, aku tak memiliki teman
sebaya yang perempuan. Ada sih, namanya Putri, ibunya biasanya
memanggilnya "Nona". Tapi Putri tidak tinggal bersama orang tua dan
adiknya di komplek, melainkan bersama Neneknya. Alhasil, aku bergaul
dengan Mas Nana, Mas Teguh,
dan Putra "Nyong". Aku suka diajak main sepak bola sama mereka. Tentu
saja dengan pemain yang sangat minim, 2 lawan 2. Aku dan Nyong bertugas
menjadi penjaga gawang. Sementara Mas Nana dan Mas Teguh yang beradu
merebut bola.
Pernah juga subuh-subuh aku diajak mereka dan
ditambah dengan Om Boni -Penjaga kantor-, untuk jogging ke luar
komplek. Entah bagaimana rute perjalanannya dahulu, aku teringat harus
meloncati pagar pembatas dari susunan bata, untuk kami sampai di kawasan
Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Kami pun harus sekuat tenaga berlari
menghindari kejaran Anjing. Benar-benar melelahkan.. -_-'
Tapi
yang aku tak habis pikir sampai sekarang... Mas Nana dulu sering sekali
aku lihat duduk di kursi teras depan rumah, kemudian di depannya ada
kertas terbentang dipenuhi nama-nama klub sepak bola. Lalu Ia pun akan
mengocok dadu, dan menuliskan angka yang keluar sebagai hasil skor gol
yang didapat oleh klub tertentu (sepertinya cara mainnya seperti itu).
Aneh...
Beda lagi dengan Mas Teguh yang suka loncat-loncatan, dan pernah mendapat hadiah balutan gips
di tangannya. Mas Teguh pernah memperlihatkan kepada ku dan juga Nyong
kelihaiannya salto dari atap gudang ke tanah. Dan salah satu "ilmu aneh"
yang berpengaruh besar bagi kehidupan ku sekarang adalah.. "kalau
pengen bisa salto, tubuhnya ringan, bisa terbang, banyak-banyak makan
sayap ayam". *.*
Sampai sekarang, kakak-beradik ini tetap suka sama Bola. Eksis yee...
Setelah Pakde priyo pindah beserta Mas Nana dan mas Teguh,
pengganti Kepala Stasiun Klimatologi lasiana adalah Pak Sugeng (alm).
Beliau memiliki 3 orang anak. Mas Asa, Tyas dan Wasis. Kali ini umur ku dan teman-teman baru tak berbeda jauh. Berbeda mainan, dengan mereka yang baru pindah dari makassar ini, aku dikenalkan dengan koleksi uang kuno. (baca :Oeang Zaman Doeloe)
Baru sebentar dengan teman komplek yang baru, kembali aku harus berpindah tempat tinggal. Namun kali ini ke luar pulau Timor. Kisah masa-masa di Kupang pun selesai, diiringi tangisan yang belum aku mengerti di depan cermin waktu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar