Selasa, 12 Februari 2013

Masa-masa di Kupang (2)

Kali ini cerita ku di Lasiana, selama kurang lebih 3 tahun 4 bulan, pasca pindah dari Penfui. Setelah pindah ke Lasiana, aku bersekolah di SD Inpres Oesapa, Kupang. Jaraknya lumayan jauh dari rumah, tapi aku selalu senang untuk melewatinya dengan berjalan kaki setiap sepulang sekolah.


Berbeda dengan SD ku yang dulu, SD Inpres Oesapa ini membuat ku menjadi "warga" beragama minoritas. bagaimana tidak, satu sekolah seingat ku hanya 5 murid dari 6 kelas yang beragama Islam. Sedangkan gurunya pun sepertinya hanya 1 orang yang muslim. Walau muslim sendiri di kelas, namun teman-teman tidak membeda-bedakan aku. Dulu di awal pernah ada guru agama islam. 5 murid itu akan berkumpul untuk belajar agama islam. Namun entah bagaimana dan kapan, seingat ku Guru agama islam ku tidak mengajar lagi. Aku pun diminta bermain sendirian di luar kelas atau sekitaran halaman sekolah, jika waktu jam pelajaran agama non Islam diadakan. *sediiihh.. kayak anak hilang T_T
Bagaimana dengan nilai agama ku di raport ? Mm.. dulu pernah nilai ku 8 -entah dari mana-, pernah juga nilai agama ku dikosongkan, sehingga nilai totalnya merosot 7-8 angka. Tapi Alhamdulillah, aku masih bisa mempertahankan peringkat 1 di halaman-halaman raport selama kelas 1 cawu 3 sampai kelas 4 SD di SD Inpres Oesapa ini.
Lain cerita ketika lingkungan sekitaran sekolah ku yang merupakan beberapa rumah Guru dan penjaga sekolah, yang memelihara Babi -maaf-. Babi-babi tersebut ada yang dilepas begitu saja, atau ada pula yang dikurung dalam kandang terbuka dan diberi pembatas pagar. Sehingga bagi ku dulu itu pemandangan "biasa". Suatu waktu, aku lupa ada acara apa di sekolah. seorang guru meminta ku meminjam golok ke seorang Bu guru, yang rumahnya tepat di belakang sekolah. Namun secara halus Ibu guru menyuruhku memanggilkan teman yang lain untuk mengambilnya, karena golok tersebut habis dipakai untuk menyembelih Babi. Dan beliau takut aku terkena najis. *Hehehe...


Aku tak begitu suka jika jam upacara tiba setiap hari senin pagi. Bukan karena aku tak suka upacara, bukan. Tapi aku akan berdiri menggeliat di bawah terik matahari. Terkadang tanah halaman sekolah yang full ditutupi dengan batu karang dan kerikil, dihiasi ulat-ulat kecil yang tidak bisa dibilang sedikit, yang seperti berenang -timbul tenggelam- dalam bebatuan itu. *hihihi...:(
Tapi sejak kelas 3 dan 4, ketika saat itu sedang heboh senam SKJ dan kami diminta untuk bergiliran setiap kelas untuk menjadi pemandu senam di depan.. Aku tak pernah absen menjadi salah satu "instruktur" ketika jadwal senam datang.
Jajanan yang menjadi favoritku selama bersekolah di SD Inpres Oesapa adalah nasi kuningnya Mama... (lupa namanya). Asli uenaaakkk banget. Harganya dulu cuma 50 rupiah setiap mangkoknya. Sampai rebutan mangkok demi mendapatkan nasi kuning dengan lauk serutan tumis pepaya dan sambal bawangnya. Mantabbb.. ^_^
Selain itu ketika kebagian sekolah siang, aku dan teman-teman juga rebutan "salome". Rupa panganan ini seperti somay berbentuk bulat-bulat kecil yang ditusuk seperti sate. kemudian dimakan dengan celupan saos. Benar-benar kecil, sesuai dengan harganya 25 rupiah per tusuk.
Sesekali aku juga pernah mendengar orang menjajakan dagangan di pikulan pundaknya, dan berteriak "daging se'i, daging se'i". Belakangan aku -dan ibuku- baru tau kalau se'i itu adalah daging nyemot.. eh monyet.


Di sekolah, aku pernah berbuat nakal -lagi-. Seperti layaknya ketua genk, aku pernah meminta beberapa teman menjemputku ke rumah untuk pergi ke sekolah bersama-sama, berangkat dengan sangat santai. Namun sesampainya di sekolah, kami terlambat. Entah waktu itu kami dimarahi atau tidak, aku lupa.

Waktu jam olahraga, aku paling  tidak suka -sampai sekarang, hahaha-. Pasti kami akan pemanasan dengan lari keliling kampung yang jaraknya tidak bisa disebut dekat. Dan selanjutnya kasti. Permainan yang -juga- aku tidak suka. Tapi mata ku akan berbinar jika kami akan olahraga di pantai. Berlari sekalian pemanasan dari sekolah menuju pantai, yang sangat aku nikmati ketika kaki-kaki telanjang kami menyentuh lembutnya bibir pantai Lasiana. Belum lama, senyum ku pasti kecut lagi, jika olahraga di pantai saat itu adalah lomba lari. Ooomiiigggooottt... &)(*^%%%$#@


Lain di sekolah, lain pula cerita di perumahan atau dalam komplek Klimatologi, Lasiana, Kupang. Di kompleks ini, aku tak memiliki teman sebaya yang perempuan. Ada sih, namanya Putri, ibunya biasanya memanggilnya "Nona". Tapi Putri tidak tinggal bersama orang tua dan adiknya di komplek, melainkan bersama Neneknya. Alhasil, aku bergaul dengan Mas Nana, Mas Teguh, dan Putra "Nyong". Aku suka diajak main sepak bola sama mereka. Tentu saja dengan pemain yang sangat minim, 2 lawan 2. Aku dan Nyong bertugas menjadi penjaga gawang. Sementara Mas Nana dan Mas Teguh yang beradu merebut bola.
Pernah juga subuh-subuh aku diajak mereka dan ditambah dengan Om Boni -Penjaga kantor-, untuk jogging ke luar komplek. Entah bagaimana rute perjalanannya dahulu, aku teringat harus meloncati pagar pembatas dari susunan bata, untuk kami sampai di kawasan Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Kami pun harus sekuat tenaga berlari menghindari kejaran Anjing. Benar-benar melelahkan.. -_-'

Tapi yang aku tak habis pikir sampai sekarang... Mas Nana dulu sering sekali aku lihat duduk di kursi teras depan rumah, kemudian di depannya ada kertas terbentang dipenuhi nama-nama klub sepak bola. Lalu Ia pun akan mengocok dadu, dan menuliskan angka yang keluar sebagai hasil skor gol yang didapat oleh klub tertentu (sepertinya cara mainnya seperti itu). Aneh...
Beda lagi dengan Mas Teguh yang suka loncat-loncatan, dan pernah mendapat hadiah balutan gips di tangannya. Mas Teguh pernah memperlihatkan kepada ku dan juga Nyong kelihaiannya salto dari atap gudang ke tanah. Dan salah satu "ilmu aneh" yang berpengaruh besar bagi kehidupan ku sekarang adalah.. "kalau pengen bisa salto, tubuhnya ringan, bisa terbang, banyak-banyak makan sayap ayam". *.*
Sampai sekarang, kakak-beradik ini tetap suka sama Bola. Eksis yee...


Setelah Pakde priyo pindah beserta Mas Nana dan mas Teguh, pengganti Kepala Stasiun Klimatologi lasiana adalah Pak Sugeng (alm). Beliau memiliki 3 orang anak. Mas Asa, Tyas dan Wasis. Kali ini umur ku dan teman-teman baru tak berbeda jauh. Berbeda mainan, dengan mereka yang baru pindah dari makassar ini, aku dikenalkan dengan koleksi uang kuno. (baca :Oeang Zaman Doeloe)

Baru sebentar dengan teman komplek yang baru, kembali aku harus berpindah tempat tinggal. Namun kali ini ke luar pulau Timor. Kisah masa-masa di Kupang pun selesai, diiringi tangisan yang belum aku mengerti di depan cermin waktu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar