Sepi...
Sunyi...
Tak ada kata yang terucap kala itu.
Entahlah, rasanya semua begitu cepat berubah.
Dulu tak seperti ini,
Kemarin beda sekali dengan saat ini,
Besok, tak tau.. apakah akan lebih baik atau tidak.
"Berapa lama kau berteman dengannya ?" tanya nya,
"Alhamdulillh, hampir 2 tahun. Kenapa ?" tanya ku,
"Sekarang berbeda ya.." ucap nya lirih,
"Beda bgaimana ?" tanya ku, yang tak mengerti arah perbincangannya yang memecah keheningan selama 1 putaran penuh jarum jam dinding itu,
"Beda.. seakan tak ada yang sama lagi dalam langkah kalian ya ?" tanya nya lagi.
_Aku tersentak.. 2 tahun.. waktu yang bisa dibilang sebentar, tapi juga terasa lama.._
"Kau merasakan itu kan ?" tegasnya lagi, membuyarkan lamunan ku.
"Ya.. (ucapku pelan) semua brbeda" jawab ku
"Saudara ku, coba kau sebutkan orang-orang yang kau anggap saudara mu" pinta nya
Entah mengapa, dengan lancar ku sebutkan nama orang-orang yang ku anggap saudara..
"si A, saudara terdekat ku, karena kami sudah berteman selama 6 tahun..
si B, saudara yang mengerti aku, kami sudah berteman selama 3 tahun..
yang lain, biasa saja.. tapi tetap bisa komunikasi."
Dia terdiam sejenak, kemudian.. "lantas aku ? apakah aku saudara mu ?"
Aku bingung.. aku harus bilang apa,
"Mm.. sebenarnya kita baru berteman dan akrab selama 5 bulan ini, jadi.. kau pastinya belum tentu mengenalku seperti mereka."
Tak ku duga, dia terisak.. butiran bening mengalir lembut membasahi pipinya..
"Saudara ku, begitukah ? Apakah kau mnganggap saudara berdasarkan lamanya waktu berkenalan ?
apakah kau tau ? Aku sudah menganggapmu saudara, saudara yang Allah takdirkan bertemu dengan ku.. sejak 5 bulan lalu."
aku terdiam.. tak bisa menarik tangannya ketika ia pergi begitu saja.
-******-
Terinspirasi dari cerita seorang teman..
Saudara, bukan diukur dari lama perjumpaan saja..
Tapi bagaimana peran dan ilmu yang terbagi selama ini, tidak sekedar untuk berbasa-basi dan bergurau yang sia-sia.
Semoga bisa adil terhadap saudara-saudara ku..
Untukmu, yang ku sebut SAUDARA, yang aku yakin.. hanya karena Allah, aku merasakan indahnya bersama mu.
Biar tak pernah ada ucap atau perjumpaan,
izinkan aku mengingat mu dalam doa ku..
Sunyi...
Tak ada kata yang terucap kala itu.
Entahlah, rasanya semua begitu cepat berubah.
Dulu tak seperti ini,
Kemarin beda sekali dengan saat ini,
Besok, tak tau.. apakah akan lebih baik atau tidak.
"Berapa lama kau berteman dengannya ?" tanya nya,
"Alhamdulillh, hampir 2 tahun. Kenapa ?" tanya ku,
"Sekarang berbeda ya.." ucap nya lirih,
"Beda bgaimana ?" tanya ku, yang tak mengerti arah perbincangannya yang memecah keheningan selama 1 putaran penuh jarum jam dinding itu,
"Beda.. seakan tak ada yang sama lagi dalam langkah kalian ya ?" tanya nya lagi.
_Aku tersentak.. 2 tahun.. waktu yang bisa dibilang sebentar, tapi juga terasa lama.._
"Kau merasakan itu kan ?" tegasnya lagi, membuyarkan lamunan ku.
"Ya.. (ucapku pelan) semua brbeda" jawab ku
"Saudara ku, coba kau sebutkan orang-orang yang kau anggap saudara mu" pinta nya
Entah mengapa, dengan lancar ku sebutkan nama orang-orang yang ku anggap saudara..
"si A, saudara terdekat ku, karena kami sudah berteman selama 6 tahun..
si B, saudara yang mengerti aku, kami sudah berteman selama 3 tahun..
yang lain, biasa saja.. tapi tetap bisa komunikasi."
Dia terdiam sejenak, kemudian.. "lantas aku ? apakah aku saudara mu ?"
Aku bingung.. aku harus bilang apa,
"Mm.. sebenarnya kita baru berteman dan akrab selama 5 bulan ini, jadi.. kau pastinya belum tentu mengenalku seperti mereka."
Tak ku duga, dia terisak.. butiran bening mengalir lembut membasahi pipinya..
"Saudara ku, begitukah ? Apakah kau mnganggap saudara berdasarkan lamanya waktu berkenalan ?
apakah kau tau ? Aku sudah menganggapmu saudara, saudara yang Allah takdirkan bertemu dengan ku.. sejak 5 bulan lalu."
aku terdiam.. tak bisa menarik tangannya ketika ia pergi begitu saja.
-******-
Terinspirasi dari cerita seorang teman..
Saudara, bukan diukur dari lama perjumpaan saja..
Tapi bagaimana peran dan ilmu yang terbagi selama ini, tidak sekedar untuk berbasa-basi dan bergurau yang sia-sia.
Semoga bisa adil terhadap saudara-saudara ku..
Untukmu, yang ku sebut SAUDARA, yang aku yakin.. hanya karena Allah, aku merasakan indahnya bersama mu.
Biar tak pernah ada ucap atau perjumpaan,
izinkan aku mengingat mu dalam doa ku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar